pendidikan agama


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Fungsi pendidikan agama bagi remaja
Masalah agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk remaja, karena agama diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Secara yuridis agama berfungsi untuk menyuruh dan melarang. Unsur suruhan dan larangan ini mempunyai latar belakang mengarahkan dan membimbing agar seseorang mempunyai kepribadian yang baik dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agam masing-masing.
Ada yang berpendapat bahwa pribadi itu tak lain dari kumpulan pengalaman pada tahun-tahun pertama dari pertumbuhan. Pengalaman yang dimaksud adalah senmua pengalaman yang dilaui, baik pengalaman melaui pendengaran, penglihatan maupun perlakuan yang diterima sejak lahir.
Sikap orang dewasa yang mengejar kemajuan lahiriyah tanpa mengindahkan nilai-nilai moral yang bersumber kepada agama yang dianutnya menyebabkan generasi muda mengalami kebingungan dalam bergaul karena apa yang dialaminya dalam masyarakat, bahkan mungkin bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri di rumah. Apabila faktor-faktor dan unsur-unsur yang membina itu bertentangan anatar satu sama lain, akan goncanglah jiwa yang dibina, terutama mereka yang sedang mengalami pertumbuhan dan perubahan cepat, yaitu usia remaja.
Disamping itu, remaja pun merasa hari depannya suram, yang biasa mereka sebut dengan masa suram, karena mereka tahu bahwa apa yang terjadi pada diri mereka dalah yang merugikan, tetapi mereka mengatasi perasaan yang tak menyenangkanitu dengan mencari obat penenang, yaitu narkotika atau kelakuan nakal. Jadi, bahaya akan terjadi dan meluas apabila kehidupan moral dan agama dalam masyarakat yang negatif itu dibiarkan menjalar dan mempengaruhi generasi muda.[1]
B.     Cara pembinaan agama bagi remaja
Remaja adalah manusia muda yang masih dalam pertumbuhan dan perkembangan untuk mencapai tingkat kematangan. Mereka bukan lagi anak-anak yang dapat dinasihati, dididik dan diajar dengan mudah, dan bukan pula orang dewasa yang dapat kita lepaskan untuk bertanggung jawab sendiri atas pembinaan pribadinya, tetapi mereka adalah orang-orang yang sedang berjuang untuk mencapai kedudukan sosial yang mereka inginkan, dan bertarung dengan bermacam-macam problem kehidupan untuk memastikan diri, serta mencari pegangan untuk menenteramkan batin dalam perjuangan hidup yang tidak ringan itu.
Diantara para remaja ada yang mengalami faktor sosial yang cepat memberi kepercayaan dan penghargaan kepadanya, karena sikap dan perilaku mereka sudah seperti selayaknya orang dewasa ynag telah matang cara berpikirnya, sehingga mereka dapat diterima sebagai anggota masyarakat yang bisa didengar pendapatnya. Dan kehidupan seperti inilah yang membuat mereka lebih cepat matang dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Sebenarnya tidaklah mudah memilih cara atau metode yang tepat dan baik bagi anak yang berusia remaja itu, namun demikian bukan berarti tidak bisa dilakukan, untuk membina kepribadian seorang remaja mungkin ada beberapa langkah yang dapat kita usahakan, antara lain yaitu:
a.       Tunjukkanlah bahwa kita memahami mereka
Sebagai orang tua atau guru atau orang dewasa lainnya yang punya tanggung jawab untuk mendewasakan orang lain harus berusaha untuk dapat memahami karakteristik dan kepribadian orang yang akan dibinanya, dalam hal ini adalah seorang remaja. Maka sebaiknya kita tunjukkan bahwa apa yang mereka alami, rasakan atau mereka derita itu kita fahami terlebih dahulu agar kita bisa lebih hati-hati dan tidak salah langkah dalam memberi  pengertian pada mereka, sehingga pada akhirnya mereka bisa menerimanya dengan penuh kesadaran diri.
Setiap orang terutama kaum remaja akan merasa senang, apabila orang lain dapat memahami dan mau mengerti perasaannya. Dengan demikan mereka akan merasa simpati kepada orang yang mau mengerti perasaan dan penderitaannya. Apabila rasa simpati itu telah tercipta, biasanya mereka akan dengan mudah menerima saran atau nasehat kita.
b.      Pembinaan dengan cara konsultasi
Hendaknya orang tua atau guru atau orang dewasa lainnya itu menyadari bahwa seorang remaja adalah manusia, bukan barang yang dapat seenaknya saja diperlakukan. Mereka punya jiwa yang tidak terlihat, tidak dapat dipegang atau diketahui secara langsung. Mereka punya perasaan, keinginan, motivasi, minat yang jelas berbeda dengan manusia yang lain, yang menuntut untuk diperlakukan secara berbeda pula. Oleh karena itu hendaklah sebagai orang tua atau guru terbuka untuk menampung atau mendengar ungkapan perasaan yang dialami oleh masing-masing mereka. Dengan demikian berarti kita telah memberi kesempatan kepada remaja itu untuk menumpahkan segala yang menegangkan perasaannya, dan sesudah itu akan terbukalah hati mereka untuk menerima saran atau alternatif-alternatif penyelesaian bagi segala problem yang dialaminya.
c.       Dekatkan agama dalam hidup
Kehidupan bermoral tidak dapat dipisahkan dari keyakinan beragama. Karena nilai-nilai moral yang tegas, pasti dan tetap, tidak berubah karena keadaan, tempat dan waktu, adalah nilai yang bersumber dari agama. Hukum dan ketentuan agama itu perlu mereka ketahui. Jangan sampai pengertian dan pengetahuan mereka tentang agama hanya sekedar pengetahuan yang tidak berpengaruh apa-apa dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Menurut Zakiyah Daradjat (1969) agama memberikan arti yang teramat besardalam kehidupan manusia karena agama mempunyai bebrapa fungsi yang antara lain:
1.      Agama dapat memberikan bimbingan dalam hidup
2.      Agama dapat menolong dalam menghadapi kesukaran
3.      Agama dapat menenteramkan batin.
Sebenarnya agama yang ditanamkan sejak kecil kepada anak-anak sehingga merupakan bagian dari unsur-unsur kepribadianya, akan cepat bertindak menjadi pengendali dalam menghadapi segala keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan yang timbul. Karena keyakinan terhadap agama yang menjadi bagian dari kepribadian itu, akan mengatur sikap dan tingkah laku seseorang secara otomatis dari dalam. Ia akan selalu berbuat yang terbaik dalam hidupnya buka karena ingin mendapatkn pujian dari orang lain, tetapi karena benar-benar ingin mendapatkan kasih sayang dan ridho dari Tuhan.[2]
C.     Basis Pembinaan Pendidikan Agama bagi Remaja
1.      Lingkungan Keluarga
Dapat dipahami bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama anak yang mempunyai pengaruh vital terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak atau generasi muda. Suasana keluarga yanag kurang mendukung, pertumbuhan dan perkembangan anak atau generasi muda tersebut antara lain terlihat dalam berbagai masalah yang dihadapi oleh orangtua dan juga oleh anak itu sendiri di dalam keluarganya, antara lain ialah:
a.       Adanya (gejala-gejala) perselisihan atau pertentangan antara anak, terutama yang telah menginjak dewasa atau remaja, dengan orang tuanya, sehingga anak dikatakan tidak patuh terhadap orangtua, sedang orangtua dianggap tidak dapat memahami tingkah laku anak.
b.      Kurang terpenuhinya secara memadai kebutuhan dan perlengkapan bagi pembinaan pertumbuhan dan perkembangan di lingkungan keluarga, baik dari segi fisik, biologis, maupun dari sosial, psikologis, dan spiritual.
c.       Kebiasaan-kebiasaan tradisional dan konvensional, terutama pada keluarga-keluarga di lingkungan masyarakat daerah pedesaan.
Permasalahan di atas timbul dan berkembang akibat beberapa faktor yang memengaruhinya, dan sekaligus menjadi faktor penghambat bagi pembinaan generasi muda, yaitu sebagai berikut:
a.       Keseimbangan yang tidak cukup antara kemajuan teknologi dan perkembangan serta perubahan  sosial yang cepat dan luas dengan kesiapan keluarga sebagai lembaga pembina utama.
b.      Kewibawaan dan perhatian orangtuayang minim terhadap anak.
c.       Ekonomi keluarga yang relatif lemah.
d.      Faktor-faktor intern pada diri anak, seperti rendahnya tingkat inteligensia anak, terlalu sensitif terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan yang diterima anak melalui berbagai macam media, dan lain sebagainya.
Namun demikian, masih ada rasa optimisme yang masih cukup kuat karena adanya faktor-faktor yang pendukung yang dapat dimanfaatkan untuk kelancaran usaha-usaha pembinaan, antara lain:
a.       Masih ada rasa kekeluargaan yang erat yang menjadi ciri khas kepribadian bangsa Indonesia.
b.      Usaha-usaha kesejahteraan keluarga dan anak serta usaha-usaha serupa lainnya yang terus diperkembangkan dan disempurnakan.
c.       Masih kuatnya rasa keagamaan dikalangan keluarga dan masyarakat yang akan bermanfaat bagi pengarahan dperkembangan generasi muda.

2.      Lingkungan Sekolah
Sekolah atau lembaga pendidikan formal lainnya merupakan lingkungan kedua yang mempunyai pengaruh besar terhadap pembinaan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak atau generasi muda Indonesia. Akan tetapi, sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga formal tersebut sampai dewasa ini belum dapat sepenuhnya melaksanakan fungsi membina generasi muda sebagaimana mestinya. Kenyataan ini ditunjukkan oleh adanya berbagai masalah, baik yang dihadapi oleh sekolah atau lembaga pendidikan formal itu sendiri ataupun yang dihadapi oleh anak-anak/ generasi muda, orangtua/ kerluarga serta masyarakat diantara masalah itu adalah:
a.       Keterbatasan prasarana, sarana, dan tenaga bagi penyelenggaraan pendidikan, baik kuantitas maupun kulaitas.
b.      Kuantitas dan kualitas pendidikan keterampilan praktis yang kurang langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh keluarga dan anak-anak didik/siswa-siswi yang bersangkutan.
c.       Ada gejala penurunan dan pengurangan wibawa guru-guru terhadap siswa dan gejala perubahan tingkah laku dan sikap dari pada siswa yang menghendaki pergaulan/hubungan sosial secara lebih bebas.
d.      Kurang pengertian dan perhatian masyarakat, orangtua, dan anak-anaj atau generasi muda sendiri tentang tujuan dan sitem pendidikan yang berlangsung, tentang jurusan atau keahlian-keahlian yang dapat ditempuh sesuai dengan bakat dan kemampuannya serta lapangan kerja.
e.       Masih belum cukup memadainya perhatian-perhatian masyarakat pada umumnya dan keluarga-keluarga pada khususnya terhadap pembinaan dan perkembangan pendidikan luar biasa serta terhadap hak dan kebutuhan generasi muda golongan tuna (tunamental, tunasosial, dan tuna fisik).
f.       Cukup banyak jumlah anak berhenti sekolah dan jumlah anak yang tidak sekolah.
g.      Banyaknya usaha pendidikan persekolahan, kurus-kursus atau training-training yang diselenggarakan oleh berbagai instansi pemerintah dan swasta.
Semua permasalahan diatas terjadi karena beberapa faktor yang menghambat kelancaran pembinaan generasi muda Indonesia, diantaranya adalah :
a.       Belum diterapkannya pola sistem pendidikan persekolahan ataupun pendidikan formal lainnya.
b.      Kurang memadainya usaha-usaha peneyberan pengertian dan motivasi pada masyarakat.
c.       Kurang diperhatikannya kesejahteraan guru dan kurang cukup memadainya usaha-usaha peningkatan kemampuan guru.
d.      Masih terbatasnya anggaran belanja pemerintah bagi perkembangan dan peningkatan pendidikan.
e.       Hubungan formal maupun informal diantar guru dengan orangtua serta siswa baik secara individual maupun secara organisatorik belum cukup intensif dan efektif.
Secara spesifik, pendidikan agama bagi para remaja di sekolah harus memperhatikan minimal tiga unsur pokok, yaitu:
1)      Guru
Setiap guru yang ingin berhasil dalam tugasnya mendidik anak-anak yang dipercayakan kepadanya, harus memahami perkembangan jiwa anak yang dihadapinya, disamping kemampuan ilmiah yang dimiliki, serta penguasaan terhadap metode dan keterampilan mengajar.
Pendidikan agama memiliki tujuan utama untuk membentuk kepribadian anaka yang sesuai dengan ajaran agama. pembinaan sikap, mental, dan akhlaq jauh lebih penting daripada kepandian menghafal dalil-dalil dan hukum-hukum agama yang tak diserapkan dan dihayati dalam hidup. Pendidikan Agama hendaknya dapat mewarnai kepribadian anak, sehingga agama itu benar-benar menjadi bagian dan pribadinya yang akan menjadi pengendali dalam hidupnya di kemudian hari. Untuk tujan pembinnan pribadi, pendidikan agama hendaknya diberikan oleh guru yang benar-benar dapat merefleksikan agama dalam sikap, tingkah laku, gerak-gerik, cara berpakaian, cara berbicara, cara menghadapi persoalan, dan dalam keseluruhan pribadinya.
Pendidikan agama akan lebih berkesan dan berhasil, berguna serta berdaya apabila seluruh lingkungan hidup yang ikut mempengaruhi pembinaan pribadi anak (keluarga, sekolah, masyarakt) sama-sama mengarah pada pembinnan jiwa agama pada anak. Untuk benar-benar dihayati, dipahami, dan digunakan pedoman hidup bagi manusia, agama hendaknya menjadi unsur kepribadiannya. Pendidikan agama yang baik tidak hanya memberi manfaat bagi anak didik yang bersangkutan, tetapi juga membawa keuntungan dan mafaat bagi masyarakat lingkungannya, bahkan masyarakat ramai dan ummat manusia seluruhnya.
Berkenaan dengan pendidikan agama bagi remaja, seorang guru agama hendaknya memahami keadaan anak yang sedang mengalami kegoncangan perasaan akibat pertumbuhan yang berjalan sangat cepat dan segala keinginan, dorongan, dan ketidakstabilan, kepercayaan. Guru yang tidak mengerti perkembangan jiwa remaja akan menyangka bahwa murid-muridnya tak mau menerima penjelasannya atau mencari soal yang memojokkannya sehingga membuatnya marah atau menjawabnya dengan hukum dan ketentuan agama yang jelas.
Berikutnya, pada masa remaja akhir, tahapan-tahapan perkembangan jiwa anak tidak terlalu tajam. Pada masa remaja akhri ini, perkembangan jasmani dsn kecerdasan remaja telah mendekati kesempurnaanya. Hal ini berarti bahwa tubuh dengan seluruh anggotanya telah dapat berfungsi dengan baik. Demikian pula dengan kecerdasannya yang dapat dianggap selesai pertumbuhannya. Sisanya adalah perkembangan dan penggunaannya secara proposional. Disamping pertumbuhan dan perkembangan tubuh dan kecerdasannya, pengetahuan remaja juga berkembang. Berbagai ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh berbagai guru sesuai dengan bidang keahlian masing-masing yang telah memenuhi otak remaja.
Meskipun kecerdasan remaja telah sampai pada tingkat menuntut agar ajaran agama yang dia terima itu masuk akal, dapat dipahami, dan dijelaskan secara ilmiah dan rasional, tetapi perasaanya masih memgang peranan pentig dalam sikap dan tindakan agama. telah dikemukakan bahwa masa remaja adalah masa dimana berbagai macam perasaan bergejolak yang terkadang satu sama lain saling bertentangan, sehingga remaja menjadi teromabing-ambing antara berbagai gejolak emosi yang saling bertentangan itu. Diantara sebab kegoncangan persaan yang sering terjadi pada masa remaja akhir itu adalah pertentangan dan ketidakserasian dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Disamping itu adanya perbedaan antara nilai-nilai akhlaq yang diajarkan oleh agama dengan kelakuan orang disekitarnya juga menggelisahkan remaja terutama apabila pertentangan itu terjadi pada orangtua, guru, para pemimpin, dan tokoh-tokoh agama. sasaran utama kekecewaan para remaja akan akan ditujukan kepada para tokoh agama karena menurut mereka para tokoh agamalah yang dianggap harus menjaga dan memperbaiki akhlaq masyarakat.
2)      Kurikulum
Kurikulum sekolah hendaknya disusun untuk menghadapi tuntutan masa remaja  dan membantu mereka dalam menghadapi persoalan yang terjadi, baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang. Dengan demikan, para remaja memiliki dan bertambah kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkunagn tempat mereka tinggal dan berinteraksi dengan berbagai peristiwanya baik dikeluarga, sekolah maupun masyarakat. Kurikulum dapat pula melengkapi alat-alat olahraga dan pendidikan jasmani bagi pelajar sehingga mereka tertolong dalam menghadapi problem kesehatan.
3)      Administrasi Sekolah
Sekolah dapat menolong remajanya mengatasi problema pemilihan pekerjaan dan kesempatan belajar yang sangat banyak. Akhirnya sekolah dan pemerintah harus dapat menolong pelajar dalam soal keungan dengan jalan mendirikan asrama-asrama pelajar, terutama bagi mereka yang datang dari daerah yang jauh dan tak begitu mampu dalam keungan. Denga demikian, dapatlah dikurangi problema keungan dan perumahan yang mereka lakukan.
3.      Lingkungan Masyarakat
Bagaimanapun keadaan suatu masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk memberikan pembinaan kepada generasi muda agar kedewasaan yang diharapkan dapat tercapai. Diantar masalah yang dianggap mendesak adalah kurangnya usaha strategis inegral dari generasi dewasa untuk menanggapi dan memahami perubahan-perubahan nilai kehidupan dan penghidupan pada generasi muda akibat pengaruh kemajuan-kemajuan ekonomi dan teknologi serta perkembangan dan perubahan sosial kultural yang cepat. Permasalahan generasi muda yang kompleks itu tidak mungkin hanya dibebankantanggung jawabnya kepada salah satu komponen masyarakat semata. Pemerintah yang dapat membuat kebijakan-kebijakan hukum yang dijadikan pijakan untuk merealisasikan langkah-langkah konkret guna mengatasi problematika generasi muda, terutama masalah pendidikan keagamaan mereka.
Berbagai macam usaha payung hukum telah dilaksanakan oleh instansi-instansi pemerintah baik dipusat maupun didaerah sebagai suatu proyek atau program kegiatan yang berhubungan dengan masalah kesejahteraan generasi muda. Diantaranya, usaha-usaha tersebut adalah :
a.       Dibentuknya Badan Koordinasi Nasional Untuk Kesejahteraan Keluarga.
b.      Diselenggarakannya Konverensi Nasional Tentang Anak Dan Pemuda (Knap) Pada Tahun 1969.
c.       Diadakannya Workshop Perundang-Undamgan Tentang Anak Dan Pemuda Pada Tahun 1970.
d.      Terbitnya Inpres No. 6/1971 Serta Terbentuknya Badan Koordinasi Pelaksana Inpres.
e.       Seminar Nasional Pembinaan Generasi Muda Indonesia Yang Berlangsung Sekarang Ini Tahun 1972.[3]
D.    Sikap Remaja terhadap Agama
Sikap dan minat remaja terhadap permasalahan keagamaan dapat dikatakan sangat bergantung pada kebiasaan masa kecil dan lingkungan agama yang mempengaruhi besar kecil minat mereka terhadap masalah keagamaan. Sebagaimana telah diketahui, bahwa diantara faktor-faktor yang mempengaruhi sikap remaja terhadap permasalahan keagamaan adalah: (a) pertumbuhan pikiran dan mental, (b) perkembangan perasaan, (c) perkembangan moral.
Berdasarkan faktor-faktor dominan diatas, ahli psikologi membagi sikap remaja terhadap keagamaan sebagai berikut:
a.       Percaya turut-turutan.
Kebanyakan remaja percaya kepada tuhan dan menjalankan ajaran agama adalah mereka yang terdidik dalam lingkunganyang beragama, ibu-bapaknya beragama, teman-teman dan masyarakat sekelilingnya rajin beribadah.
Kenyataan ini dapat dilihat diman-dimana, sehingga banyak sekali remaja yang beragama hanya karena orangtuanya beragama. Cara seperti ini merupakan lanjutan dari cara keberagamaan dimasa kanak-kanak. Sehingga, seakan-akan tak terjadi perubahan pada pikiran mereka tentang keberagamaannya. Namun, setelah diteliti dari setiap remaja seperti itu dapat diketahui bahwa dalam hati mereka ada pertanyaan yang tersembunyi.
Kepercayaan turut-turutan baiasanya terjadi apabila orangtua memberikan didikan agama dengan cara yang menyenangkan, jauh dari pengalaman pahit diwaktu kecil, dan dimasa remaja tidak mengalami masalah yang menggoncangkan jiwa, sehingga cara kekanak-kanakan dalam beragama terus berjalan dan berkelanjutan. Tetapi, ketika dalam usia remaja mereka menghadapi peristiwa yang mendorongnya meneliti kembali pengalamannya diwaktu kecil, ketika itu kesadaraannya akan timbul sehingga dalam dirinya akan muncul semangat beragama yang tinggi atau ragu-ragu bahkan anti agama.
Percaya turut-turutan biasanya dijhadapi pada usia masa remaja awal (13-16 tahun). Setelah itu, biasanya akan terjadi perkembangan kearah jiwa yang lebih kritis dan lebih sadar.
b.      Percaya dengan kesadaran
Masa remaja adalah masa perubahan dan kegoncangan disegala bidang dimulai dari perubahan jasmani yang sangat cepat, jauh dari keseimbangan dan keserasian.
Kegelisahan dan ketakutan bercampur aduk dengan rasa bangga dan kesenangan serta bermacam-macam fikiran dan hayalan sehingga remaja betul-betul tertarik untuk memperhatikan dan memikirkan dirinya sendiri.
Setelah kegoncangan remaja pertama agak reda, sekitar usia 16 tahun dan pertumbuhan jasmani hampir selesai, remaja dapat berpikir lebih matang dan pengetahuaanya semakin bertambah dan mendorong remaja lebih tenggelam lagi memikirkan dirinya sendiri yaitu mengambil tempat dan menonjol dalam masyarakat. Terkadang, pertumbuhan jiwanya secara abnormal atau menyimpang sehingga mereka bergabung dalam geng-geng nakal dan terkadang pula tumbuh dalam bentuk kesadaran agama yang berlebihan.
Semangat keagamaan pada masa remaja dimulai dengan kecenderungannya untuk meninjau dan meneliti ulang cara ia beragama dimasa kecil dulu. Kepatuhan dan ketundukan kepada ajaran tanpa komentar atau alasan tak lagi menggemberikannya. Mereka ingin menjadikan agama sebagai lapangan baru untuk membuktikan pribadinya. Sehingga mereka tak mau lagi beragama sekedar ikut-ikutan saja. Semangat keagamaan sepert itu tidak terjadi sebelum usia 17-18 tahun.
Semangat keagamaan mempunyai 2 bentuk, yaitu :
Ø  Semangat agama positif
Semangat agama positif berusaha melihat agama dengan pandangan yang kritis, tak mau lagi menerima hal yang tak masuk akal dan bercampur dengan khurafat-khurafat. Pandangan seperti itu membangkitkan rasa aman pada remaja terhadap agamanya.
Tindakan dan sikap agama orang-orang memiliki semangat agama seperti ini terlihat berbeda-beda sesuai denagn kecenderungan kepribadian yang extravert (berkepribadian terbuka, yaitu orang-orang yang dengan mudah mengungkapkan perasaannya keluar (kepada orang lain)). Atau introvert (kepribadian tertutup yaitu orang yang lebih cenderung kepada menyendiri  dan menyimpan perasaannya).
Ø  Semangat agama khurafi
Remaja yang mempunyai kecenderungan pikiran kekanak-kanakan biasanya cenderung mengambil unsur-unsur luar dan mencampurkannya kedalam agama dan keyakinannya, misal khurafat, bid’ah-bid’ah, dan sebagainya.
Apabila agama yang bersifat khurafi terjadi pada orang yang memiliki sifat terbuka (extravert) praktik-praktik dan keyakinannya terhadap khurafat-khurafat itu tidak hanya untuk dirinya saja tetapi dia juga akan mengajak orang lain untuk meyakini keyakinannya bahkan dijadikan alat pergaulan dalam masyarakat.
c.       Percaya tetapi agak ragu-ragu (kebimbangan beragama)
Kebimbangan remaja terhadap agama tak sama antara yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan kepribadian masing-masing. Ada yang mengalami kebimbangan ringan yang secara cepat dapat diatasi dan ada yang sangat berat sampai untuk berubah agama. kebimbangan terjadi sesudah perkembangan kecerdasan tak dapat dipandang sebagai suatu kejadaian yang berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan segala pengalaman dan proses pendidikan yang dilaluinya sejak kecil. Hal ini karena pengalaman itu ikut membina pribadinya.
Kebimbangan remaja tergantung pad 2 faktor, yaitu:
·         Kebimbangan dan keingkaran kepada tuhan merupakan pantulan keadaan masyarakat yang dipenuhi oleh penderitaan, kemerosostan moral dan kebingungan.
·         Pantulan dari kebebasan berfikir yang menyebabkan agama menjadi sasaran dan arus sekulerisme.
d.      Tak percaya sama sekali atau cenderung atheis
Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari adanya wujud tuhan sama sekali dan mengganti dengan keyakinan lain.
Perkembangan remaja kearah tiada percaya adanya tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari hal kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kedzaliman orangtua kepadanya maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orangtua dan kekuasaan terhadap siapapun termasuk kekuasaan tuhan.[4]
E.      Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sikap Keagamaan pada Remaja
Perkembangan pada masa remaja menduduki masa progresif. Penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak padaremaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut. Adapun perkembangan pada masa remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Starbuck (Dalam Jalaludin, 2002) adalah:
a.       Pertumbuhan pikiran dan mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama merekajuga tertarik dengan masalah kebudayaan, ssial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya. Dari hasilpenelitian Allport, Gillesphy dan Young menunjukkan bahwa agama yang ajarannya lebih bersifat konservatif lebih mempengaruhi bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya. Begitu pula sebaliknya agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para remaja sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental remaja mempengaruhi sikapkeagamaan mereka.
b.      Perkembangan perasaan
Pada masa remaja berbagaiperasaan telah berkembang misalnya perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati peri kehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan mendorong para remaja untuk lebih cenderung kepada kehidupan religius pula. Sebaliknya kehidupan yang liberal yakni para remaja yang hidupnya kurang mendapatkan siraman pendidikan dan pengalaman agama yang cukup, maka hidupnya juga cenderung bebas, dan bahkan tidak jarang mereka terperosok ke dalam tindakan seksual demi melampiaskan nafsu birahinya. Menurut hasil penyelidikan Dr. Kinsey diAmerika Serikat pada sekitar tahun 1950-an, mengungkapkan bahwa 90 % pemuda Amerika telah mengenal masturbasi, homo seks, dan onani.
c.       Pertimbanagan sosial
Dalam kehidupan keagamaan pada masa remaja banyak timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi akan materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms terhadap 1789 remaja Amerika antar usia 18-29 tahun menunjukkan bahwa 70 % pemikiran remaja ditujukan bagi kepentingan keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri, dan masalah kesenangan pribadi lainnya, sedangkan masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6 %, masalah soail 5,8 %. Dari sini terlihat bahwa corak keagamaan para remaja salah satunya ditandai oleh adanya pertimbangan soaial.
d.      Perkembangan moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada remaja juga mencakup:
1)      Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2)      Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3)      Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
4)      Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
5)      Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.
e.       Sikap dan minat
Besar-kecil sikap dan minat para remaja terhadap agama ternyata juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan lingkungan agama yang mereka terima sejak kecil. Anak yang sejak kecil sudah dibiasakan untuk taat terhadap ajaran agama maka ketika masa remaja dimungkinkan anak tersebut akan lebih cenderung mempunyai sikap dan minat yang lebih tinggi terhadap ajaran agama, dan begitu pula sebaliknya.
f.       Ibadah
Pada masa remaja ini kondisi jiwa agama belum stabil, hal ini dikarenakan secara kejiwaan mereka masih belum mencapai kematangan sehingga dalam beragamapun terkadang mengalami keraguan yang akhirnya akan muncul konflik dalam jiwa remaja tersebut.
Menurut hasil penelitian Ross dan Oskar Kupky, tentang pandangan para remaja terhadap ajaran agama yakni masalah ibadah dan doa.
Beranjak dari kenyataan, sikap keagamaan seseorang terbentuk oleh 2 faktor, yaitu faktor internal dan eksternal :
1.      Faktor internal
a.       Faktor hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, afektif, dan konatif.
b.      Tingkat usia
Hubungan antara perkembangan usia dan  perkembangan jiwa keagamaan tampaknya tak dapat dihilangkan begitu saja. Apabila konversi lebih dipengaruhi oleh sugesti, tentunya konversi akan lebih banyak terjadi pada anak-anak, mengingat tingkat usia tersebut, mereka lebih mudah menerima sugesti. Namun, kenyataannya hinga usia baya pun masih terjadi konversi agama.
c.       Kepribadian
Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur yaitu herditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk kepribadian. Adanya kedua unsur yang membentuk kepribadian itu menyebabkan munculnya unsur konsep tipologi dan karakter. Tipologi lebih ditekankan kepada unsur bawaan sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan.
d.      Kondisi kejiwaan
Gejala-gejala kejiwaan yang abnormal ini bersumber dari kondisi saraf (neurosis), kejiwaan (psikis), dan kepribadian (personality).
Kondisi kejiwaan yang disebabkan oleh gejala psikosis umumnya menyebabkan seseorang kehilangan kontak hubungan dengan dunia nyata. Gejala ini ditemui penderita schizoprenia, paranoia, maniac, serta infantileautism (berperilaku seperti anak-anak).

2.      Faktor eksternal
a.       Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan satuan sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia. Anggota-anggotanya terdiri atas ayah, ibi, dan anak-anak, keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenalnya. Dengan demikian, kehidupan keluarga menjadi fase sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaannya.
b.      Lingkungan institutional
Lingkungan institutional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan atau organisasi. Sekolah sebagai institusi pendidikan formal yang ikut memberi pengaruh dalam membantu perkembangan kepribadian anak.
c.       Lingkungan masyarakat
Dapat dikatakan bahwa anak setelah menginjak usia sekolah, sebagaian besar waktu jaganya dihabiskan disekolah dan  masyarakat. Berbeda dengan situasi dirumah dan di sekolah, umumnya pergaulan di masyarakat kurang menekankan pada disiplin atau aturan yang harus dipatuhi secara ketat.
Meskipun tampak longgar, kehidupan bermasyarakat dibatasi oleh berbagai norma dan nilai-nilai yang didukung oleh warganya. Oleh karena itu setiap warga berusaha untuk menyesuaikan sikap dan tingkah laku dengan norma dan nilai-nilai yang ada. Dari sini dipahami bahwa kehidupan bermasyarakat memiliki suatu tatanan yang terkondisikan.[5]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Penanaman pendidikan agama bagi remaja terjadi pada beberapa basis, yaitu di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat, dimana dari ketiga basis tersebut memiliki peranannya masing-masing serta sangat mempengaruhi didalam pertumbuhan dan perkembangan jiwa keagamaan setiap remajanya.
Ada beberapa cara didalam membina pribadi remaja agar menjadi pribadi yang memiliki jiwa keagamaan yang baik, yaitu dengan cara menunjukkan kepada remaja bahwa pembina memahami keadaan mereka, kemudian membina secara konsultasi dan mendekatkan agama kepada kehidupan remaja yang dibina.
B.     Saran
Sebagai remaja yang berpendidikan dan mengetahui sedikit tentang agama, hendaknya kita harus menjadi lebih baik daripada yang lain, dan mengajarkan ilmu yang kita punya.


[2] Noer Rohmah, Pengantar Psikologi Agama, (Yogyakarta: Teras, 2013), hlm. 137-142
[3] Bambang Syamsul Arifin. Psikologi Agama. (Bandung: Pustaka Setia. 2008). Hlm 91-101
[4] Ibid., hlm 70-76
[5] Ibid., hlm 76-85

Komentar